Negotiating Food Waste: Using a Practice Lens to Inform Design

Eva Ganglbauer and Geraldine Fitzpatrick, Vienna University Technology

Rob Comber, Newcastle University

Abstract

Ecological sustainability is becoming of increasing concern to the HCI community, though little focus has
been given yet to issues around food waste. Given the environmental impact of food waste, there is potential
to make a significant difference. To understand everyday domestic practices around food and waste, we took
a “practice” lens and carried out a study in 14 households that involved interviews, in-home tours and, in five
of the households, a FridgeCam technology probe. The analysis highlights that food waste is the unintended
result of multiple moments of consumption dispersed in space and time across other integrated practices
such as shopping and cooking, which are themselves embedded in broader contextual factors and values. We
highlight the importance of respecting the complex negotiations that people make within given structural
conditions and competing values and practices, and suggest design strategies to support dispersed as well
as integrated food practices, rather than focusing on waste itself.
Categories and Subject Descriptors: H.5.m [Information Systems and Presentation]: Miscellaneous
General Terms: Design, Human Factors
Additional Key Words and Phrases: Everyday practice, food and waste, sustainability, design

Pengkaji: Kustoro Nugroho

Banyaknya sampah yang berasal dari sisa makanan yang kita makan atau kita beli, menimbulkan permasalahan yang cukup serius. Untuk mengatasi masalah tersebut, dibuatlah teknologi FridgeCam. FridgeCam merupakan sebuah alat perekam berupa kamera yang dipasangkan di dalam pintu kulkas (refrigerator/fridge). Setiap detik saat kulkas dibuka, sensor accelerometer didalam handphone akan mengirimkan perintah kepada kamera yang dipasang di dalam kulkas untuk merekam gambar. Kemudian gambar tersebut di-upload ke situs yang terdedikasi di domain FridgeCam. Pengguna dapat mengakses 15 gambar terakhir kapanpun dan dimanapun lewat situs tersebut, sehingga pengguna dapat mempertimbangkan daftar belanjaan dan makanan apa saja yang perlu dibeli, agar tidak membeli makanan yang tidak perlu. Pengguna juga dapat mengetahui kondisi aktual dari isi kulkas ketika berada di tempat kerja atau tempat manapun, sehingga manakala kehabisan stok bahan makanan, pengguna akan membeli bahan makanan di tempat perbelanjaan.

Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi pola atau kebiasaan makan seseorang, dapat diketahui kebutuhan makan orang tersebut. Faktor tersebut misalnya, tingkat pendidikan orang tersebut, harga makanan yang dibeli, jenis kelamin, kebiasaan orang tersebut berkebun atau tidak, dan kebiasaan makan di lingkungan sekitarnya. Untuk mengetahui dampak dan kegunaan dari FridgeCam, dilakukan interview dan monitoring terhadap 17 partisipan dari 14 rumahtangga yang mengujicoba FridgeCam. Partisipan tersebut terdiri atas orang-orang yang peduli terhadap lingkungannya, dan sesuai dengan target.

Berdasarkan kesaksian dari partisipan tersebut, didapatkan karakteristik atau user persona, yaitu pengguna merupakan orang yang sibuk dan tidak sempat menuliskan daftar belanjaan, sehingga sering kali pengguna membeli bahan makanan berlebihan. Pengguna juga jarang berkomunikasi mengenai bahan makanan dan barang belanjaan lainnya dengan pasangannya, sehingga ketika pasangan tersebut membeli bahan makanan yang sama, maka akan menimbulkan persediaan yang berlebih. Demikian juga ketika tidak ada salah satu diantara mereka yang membeli bahan makanan, maka persediaan makanan mereka kosong, karena mereka akan beranggapan kalau salah satu dari mereka sudah membelinya, sehingga tidak perlu lagi membeli. Letak geografis dari pengguna terhadap tempat belanja juga mempengaruhi. Letak geografis pengguna yang berada di tempat yang terpencil akan kesulitan mendapatkan akses, sehingga mereka akan cenderung membeli lebih banyak bahan makanan untuk persediaan tanpa memikirkan ketahanan bahan makanan tersebut dari proses pembusukan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tujuan dari penggunaan FridgeCam adalah untuk menstimulasi kepedulian terhadap lingkungan, khususnya tentang sampah dari sisa bahan, dan membuka diskusi lebih umum tentang peran serta teknologi dalam mengatasi masalah tersebut. Setiap alat FridgeCam memiliki halaman web sendiri untuk menampilkan 15 gambar teraktual dari isi kulkas. Pengguna hanya dapat melihat gambar miliknya sendiri, pengguna tidak dapat melihat gambar milik pengguna FridgeCam yang lain. Melalui FridgeCam, pengguna dapat secara praktis menyusun daftar belanjaan dan tentunya ini menunjukkan bahwa teknologi juga dapat membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Keunggulan dari FridgeCam antaralain yaitu membantu pengguna dalam menyusun dan berbelanja berdasarkan informasi yang diperoleh dari data actual yang dapat diakses secara online. Membantu menyimpan dan mengelola tempat penyimpanan bahan makanan dari gambar FridgeCam dapat diketahui kapasitas dan isi dari kulkas tempat menyimpan makanan. Dapat membantu pengguna dalam menyusun resep makanan berdasarkan data bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas. Dapat lebih mengkoneksikan antaranggota rumahtangga melalui FridgeCam. Sebagai media pembelajaran tentang berkebun bagi anak-anak dengan orangtua mereka sebagai pembimbingnya disaat orangtua mereka jauh dari rumah. Dapat mengkoneksikan antarorang untuk saling bertukar informasi mengenai strategi, makanan, cerita testimoni, sumber, dan nilai dari bahan makanan itu sendiri.

Sementara itu, kekurangan dari FridgeCam yaitu keterbatasan jumlah gambar yang dapat direkam hanya sampai 15 gambar. Padahal jika frekuensi membuka kulkas sering dilakukan, akan ada banyak perubahan data yang banyak. Pengguna tidak dapat melihat gambar FridgeCam dari pengguna yang lain. Hal ini memang baik dalam segi privasi, akan tetapi pengguna juga tidak dapat berefleksi berdasarkan gambar dari pengguna FridgeCam yang lain. Selain itu, tidak ada fungsi alert untuk mengingatkan pengguna supaya mengecek halaman web FridgeCam miliknya, sehingga percuma saja ada FridgeCam namun pengguna tidak sempat melihat data dari FridgeCam miliknya karena lupa, terlalu sibuk, atau tidak memiliki reminder untuk mengeceknya. Fungsi reminder dapat ditambahkan misalnya disaat pengguna selesai kerja atau di jam-jam tertentu pengguna akan berbelanja di setting alert untuk mengecek halaman web dari FridgeCam milik pengguna tersebut.

Masalah yang ada pada aspek aesthetic and minimalist design di software Tableau 9.0 desktop yaitu informasi yang ditampilkan pada kotak dialog yang satu dengan yang lain berbeda, padahal masih dalam satu pembahasan.

error rocogniton tableau

error rocogniton tableau2

Pada kotak dialog yang pertama, setelah kita memasukkan data, ternyata ada enam item yang tidak diketahui oleh Tableau. Akan tetapi, setelah kita meng-klik edit location, ternyata hanya ada satu item yang tidak diketahui oleh Tableau. Hal ini tentunya membingungkan kita, mana informasi yang benar?

Rekomendasi dari saya yaitu setiap tampilan informasi harus sama, tidak ada perbedaan informasi yang membuat ambigu.

Severity Ratings for Usability Problems (Jakob Nielsen,1995):

3 = Major usability problem: sangat penting untuk diperbaiki kesalahan tersebut, demi kenyamanan user dan kejelasan informasi yang disampaikan.

Masalah yang ada pada aspek help and documentation di software Tableau 9.0 desktop yaitu menu help yang tidak terintegrasi di software tersebut.

help and documentation tableau

Ketika kita kesulitan, kita akan mencari menu help, berharap ada informasi di menu tersebut yang dapat membantu kita. Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika kita mencoba membuka menu help pada Tableau, menu help tersebut terhubung ke internet. Jadi kalau kita tidak terhubung ke internet, kita tidak dapat mendapatkan informasi dari menu help tersebut. Tentunya ini akan menyulitkan user yang tidak memiliki koneksi jaringan ke internet. User akan kebingungan, tak tahu harus bertanya kepada siapa.

Help and documentation tableau 2

Rekomendasi dari saya yaitu sebaiknya menu help tersedia di software tersebut tanpa harus terhubung ke internet. Hal ini agar memudahkan user dalam mencari informasi bantuan.

Severity Ratings for Usability Problems (Jakob Nielsen,1995):

3 = Major usability problem: sangat penting untuk diperbaiki kesalahan tersebut, demi kenyamanan user mendapatkan informasi bantuan secara offline.

Masalah yang ada pada aspek error prevention di software Tableau 9.0 desktop yaitu tidak ada pesan atau label untuk memasukkan input data yang benar.

Error prevention tableau

Error prevention tableau 2

Ketika kita akan memasukkan suatu input data, tidak ada pesan atau label yang menyarankan kita agar memasukkan input data yang benar. Misalnya,saat kita akan memasukkan data latitude dan longitude, kita akan kebingungan apakah data latitude dimasukkan ke bagian columns, ataukah ke bagian rows? Tidak ada suggestion dari sistem, sehingga apabila kita salah memasukkan input, kita harus mengulangi pemasukkan input tersebut, dan tentunya itu akan menyita waktu kita.

Seharusnya data latitude kita masukkan kedalam Rows, dan data longitude kita masukkan kedalam Columns. Akan tetapi karena kita salah memasukkan data, maka tampilan dari hasil visualisasinya pun tidak seperti yang kita harapkan.

Rekomendasi perbaikan untuk permasalahan tersebut yaitu dengan menyertakan suggestion atau saran, agar kesalahan input data dapat diminimalisir. Karena tidak semua user tahu akan fitur-fitur dan tools yang ada di software tersebut.

Severity Ratings for Usability Problems (Jakob Nielsen,1995):

2= Minor usability problem: akan lebih efektif dan efesien apabila terdapat suggestion untuk user dalam melakukan setiap kegiatan yang diperuntukan untuk orang awam.

Masalah yang ada pada aspek consistency and standard di software Tableau 9.0 desktop yaitu tampilan pada menu pull down yang terlihat, tetapi tidak dapat diakses.

consistency and standar tableau

Umumnya pada tampilan menu pull down yang terdapat pada software-software yang lain, menu yang tidak dapat diakses tidak akan terlihat (tidak dapat di klik atau dipilih). Hal ini bertujuan agar pengguna tidak melakukan kesalahan. Akan tetapi, pada Tableau 9.0 menu pull down yang tidak dapat diakses masih terlihat atau dapat di klik. Hal ini tentunya membuat user bertanya-tanya, untuk apa menu ini ditampilkan kalau tidak dapat diakses? Misalnya, ketika kita memilih menu “Percetage of”, maka akan muncul deretan menu None, table, column, row, dsb, yang tidak dapat diakses. Lalu menu ini ditampilkan untuk apa?

Rekomendasi untuk permasalahan ini yaitu dengan menyembunyikan menu-menu yang tidak dapat diakses. Seperti pada contoh diatas menu View data tidak dapat dipilih karena disembunyikan. Hal ini untuk konsistensi agar user tidak merasa bingung dan bertanya-tanya, untuk apa menu ini ditampilkan kalau tidak dapat diakses?

Severity Ratings for Usability Problems (Jakob Nielsen,1995):

2= Minor usability problem: akan lebih konsisten jika menu-menu yang tidak dapat diakses tidak perlu ditampilkan.

Masalah yang ada pada aspek visibility of system status di software Tableau 9.0 desktop yaitu tidak adanya visualisasi atau tampilan jenis-jenis font saat kita ingin mengganti jenis font pada judul project yang sedang kita kerjakan.

visibility of system status tableau

Umumnya pada saat kita akan mengganti jenis font pada suatu tulisan, akan ditampilkan style dari font tersebut. Misalnya, pada font impact, tulisan “impact” font tersebut akan mencontohkan style dari font tersebut, kemudian font monotype corsiva, tulisan “monotype corsiva” font tersebut akan mencontohkan style dari font tersebut. Akan tetapi, pada Tableau 9.0, style dari jenis-jenis font yang ada tidak ditampilkan, hanya menampilkan nama dari jenis font tersebut. Ini membuat user kebingungan, karena user tidak mengetahui style dari semua jenis font tersebut. User pastinya akan mengalami kesulitan untuk memilih jenis font tersebut karena tidak ada contohnya yang dapat menerangkan atau menjelaskan style dari jenis font tersebut.

Rekomendasi perbaikan yang saya sarankan adalah sebaiknya jenis-jenis font tersebut disertai pula dengan contohnya, agar user mendapatkan gambaran mengenai style font yang akan dipilih. Hal ini karena tidak semua user familiar atau tahu dengan semua jenis-jenis dan style dari font tersebut. Setidaknya dengan disertakan contoh dari jenis font tersebut akan membuat user merasa lebih nyaman dan leluasa dalam memilih font.

Severity Ratings for Usability Problems (Jakob Nielsen, 1995):

3 = Major usability problem: sangat penting untuk diperbaiki kesalahan tersebut, demi kenyamanan user.

Data yang saya visualisasikan adalah jumlah desa di seluruh provinsi di Indonesia.

Sumber : Statistik Indonesai Tahun 2014, halaman 40, tabel 2.1.4.

Visualisasi data yang saya sajikan menggunakan software Tableau. Software ini dapat diunduh secara gratis di internet dan berbayar jika kita menginginkan lisensinya. Akan tetapi dapat memakai trial version untuk yang versi professional dengan masa berlaku 14 hari.

Keunikan dari visualisasi menggunakan Tableau adalah pengguna akan lebih berinteraksi dengan komputer. Misalnya, jika pengguna mengarahkan kursor ke arah provinsi Sulawesi Utara maka akan muncul data jumlah desa di provinsi tersebut selama tahun 2009-2013.Berikut screen shoot dari data yang saya visulisasikan:

Scene One

Perbedaan warna pada peta tersebut menunjukkan perbedaan jumlah desa berdasarkan tingkatan jumlahnya yang dijelaskan pada legenda warna. Pengguna juga dapat melakukan manipulasi data, misalnya jika pengguna ingin mencari data desa di provinsi Lampung selama tahun 2009-2013, maka akan muncul hasilnya sebagai berikut:

Scene Two

Pengguna juga dapat mengubah visualisasi sesuai keinginan, misalnya tampilan map akan diubah ke tampilan treemaps, maka tampilannya akan berubah menjadi:

Scene Treemaps

Ada juga tampilan bubble:

Scene four buble

Kemudian ada juga tampilan pie chart yang colorfull dan interaktif:

Scene five pie chart

Visualisasi data menggunakan Tableau dapat dipresentasikan seperti halnya pada Microsoft Powerpoint. Sehingga lebih interaktif dan lebih menarik daripada sekedar grafik yang hanya dapat dilihat saja oleh pengguna. Software Tableau juga sudah terintegrasi dengan Microsoft Excel, sehingga data basenya menjadi lebih mudah karena bisa terhubung ke Excel.

Jika ingin membuka data visualisasi menggunakan Tableau, berikut linknya: http://bit.ly/datatableau atau DataTableau

 

images

Coba tebak apa yang kira-kira dikatakan oleh ilustrasi anime diatas… Comment sendiri juga boleh…

“Aku telah melakukan banyak sekali dosa dan kesalahan, apakah aku masih bisa dimaafkan?”

“Kesalahan-kesalahanku dimasa yang lalu bagaikan mimpi buruk yang terus menghantuiku… Aku takut…”

“Jika saja semuanya berjalan sesuai dengan harapanku, maka semua ini tidak perlu terjadi”

picture

And now let’s discuss something in English, it’s a good way to improve our English skill. So, have fun and don’t miss what we have discuss today 😀

What is information architecture?

Imagine your local supermarket/grocery store has just been renovated. The owners have expanded it to include more items, and improved the layout so you can move around more easily.
And you’re seeing it all for the first time.

You walk in craving chocolate, head to where it’s usually kept and realize that, wow, everything has been moved. Yikes! How can you quickly make sense of it and find the chocolate? After all, you don’t want to check every item on every shelf. You look at the signs, but they all point to where stuff used to be. No help there.
You start looking up the aisles. No, this aisle is all canned food… this one is soft drink… this one is bread…

Aha! Here’s one that looks like it’s full of sweet things (the bright colors and everything at children’s eye level gives it away). You decide to give this one a go. And lo and behold, there’s the chocolate.

Why was this relatively easy, even though they’d moved everything around? It’s because they put similar things together into groups. And they put those groups into bigger groups, and those groups into even bigger groups. So they put all the chocolate – dark, light, white, bars and pieces – together. Then they put it near other sweet things, which are also arranged into groups of similar items. And so, when we glance down the aisle, we can quickly figure out what the whole aisle is about.

Now let’s extend that idea to our websites, intranets and other information systems. We could just list everything we have on the home page, but we usually don’t. Instead we put our content into groups, break those groups into sub-groups, and so on. This is much easier to use than showing all our content in one long list.

However, it isn’t just grouping items that make supermarkets and websites work well. It’s about creating groups that make sense to the people who use them. After all, supermarkets could group by color, or even where things were made. They could put the chocolate with the gravy and other things that are brown. They could put the Swiss chocolate with the Swiss cheese, and the Belgian chocolate with the Belgian beer. But as tempting as that may sound, most times it won’t help anyone find the chocolate in their newly-renovated supermarket.

Even when we create categories that make sense to people, we need to describe them well. So no seacláid signs in a supermarket full of non-Irish speakers, or aisles called Sweeties Treaties. We also need to help people find their way to the thing they want. In the supermarket this can be done with layout, signage and visual guides; on websites we use navigation bars, buttons and links.

Information architecture is all about:
1. Organizing content or objects
2. Describing them clearly
3. Providing ways for people to get to them.

bol3--621x414

Where we find information architecture?

While most information architecture work these days is used for websites and intranets, you can find it wherever you need to organize things (information and/or objects) that other people need to use. So it’s just as useful for figuring out how to organize your music and movies, you’re fie system at work, and even physical things such as your paper files at home or groceries on a supermarket shelf.

mba_in_it

Why information architecture is important?

Information architecture has always been important. Whenever we create groups and describe things other people need to use, the information architecture (how things are grouped and labelled) directly affects how easy things are to use. As the amount of information available to us keeps growing, information architecture becomes even more important. The more information there is, the harder it can be to sift through and fid what you need. Good information architecture can help people find their way through the information, and ignore what isn’t relevant.

But good information architecture can do more than just help people find objects and information. It can empower people by making it easier for them to learn and make better decisions. So what’s a good information architecture? It’s one that is both easy for people to understand and works well for whatever is being grouped. A bad one is just the opposite – it’s hard for people to use, and the content doesn’t easily fi. For example, an online supermarket with a good information architecture may put all the chocolate together and group it with other snack foods. One with a bad information architecture may group all grocery items by manufacturer, making people check every manufacturer to see who produces chocolate.
This isn’t easy. For any set of things:
• There will always be more than one way of organizing them. Unfortunately it isn’t always clear which way is the best way.
• People have different needs.
• People often have different ideas about what goes together and
what doesn’t.
• Some people may know a lot about a topic, while others may know
nothing at all.
As you can see, three of these reasons relate to people. If you’re organizing things that will be used by other people, you’ll need to do it in a way that makes sense to them – that fits with their idea of what goes together, and is described in a way that makes sense to them. This can be easy if they think the same way as you, but that’s rare – I’ve only worked on a couple of projects for people just like me. It’s far more likely that whoever’s using your information will think differently to you – sometimes very differently.

tam-quan-trong-cua-quan-ly-chat-luong-du-lieu

What you need to create a good information architecture?

You need to understand three very important things before you can design an IA that works really well:
• People: What they need do to, how they think and what they already know
• Content: What you have, what you should have and what you need
• Context: The business or personal goals for the site, who else will be involved and what your constraints are.

Without a good understanding of these three things, you simply can’t create a good IA.
• If you don’t know enough about people you won’t be able to group content in ways that make sense to them, or provide ways for them to find it easily.
• Without a good understanding of your content, you won’t be able to create an information architecture that works well for current and future content.
• And if you don’t know all about the context, you won’t be able to create something that works for people and the business, and you’ll have endless trouble in the project.

Source: Donna Spencer. 2010. A Practical Guide to Information Architecture. Penarth (UK): Five Simple Steps

courseIconBS-hci

Interaksi merupakan komunikasi antara dua atau lebih objek yang saling mempengaruhi satu sama lain. Interaksi ini tidak akan berjalan dengan baik apabila salah satu objek mengalami hambatan dalam berinteraksi. Interaksi antara manusia dengan komputer merupakan komunikasi dua arah, antara pengguna (user) dengan sistem komputer yang saling mendukung untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Interaksi komputer tidak hanya fokus pada tampilan interfacenya saja, tetapi juga memperhatikan aspek-aspek pemakai, implementasi sistem rancangannya, juga faktor lingkungannya. Misalnya sistem tersebut mudah dipelajari, dipakai, tidak membuat user berpikir panjang, dsb.

akasaka lawak

Tujuan dari interaksi manusia dan komputer yaitu :

– Menghasilkan sistem yang bermanfaat (usable), sistem yang dibuat memiliki mafaat dan mudah dioperasikan baik user secara individual maupun kelompok.

– Fungsionalitas, fungsi-fungsi yang ada didalam sistem yang dibuat sesuai dengan perencanaan dan kebutuhan user.

– Keamanan, semakin meningkatnya teknologi informasi, maka faktor keamanan sangat penting untuk ditambahkan kedalam sistem.

– Efektivitas dan Efisiensi, sangat berpangaruh pada produktivitas kerja penggunanya.

August 2015
M T W T F S S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31